
Deskripsi Singkat
“Bunda, di mana bunda simpan kaos kakiku?” Teriak seorang anak perempuan yang sedang celingkungan mencari benda yang ia pertanyakan keberadaannya.

Calvin William Roderick. leader dari geng Black Tiger’s, king of the mafia. Ayahnya yang bernama ‘Nicholas Oliver Roderick, adalah seorang CEO ternama. Perusahaannya kini telah dikenal hingga sampai ke telinga masyarakat luar negri.
Ia kewarisi ketampanan sang ayah, dan dijuluki sebagai –mostwanted- di sekolahnya. Namun sayang, ia memiliki sifat dingin bak kutub utara.

Mobil berwarna hitam masuk ke dalam gerbang tinggi berwarna putih, Bangunan yang amat besar didalamnya, Ini lah rumah Azzel di Surabaya ,Azzel keluar dari mobil milik nya ia membuka pintu berwarna putih, dan langsung menuju keruang TV, Meraih remod TV di atas meja, Azzel mencari siaran TV yang ingin ia tonton, Memosisikan kaki nya di atas sofa.

“Ra…..sini cepetan.” Ucap Liona yang sedang menunggu teman-temannya datang kesekolah. Setelah Alora menutup pintu mobilnya, dia langsung berlari menghampiri temannya. Alora Permata Wijaya anak tunggal dari keluarga Bapak Wijaya Adipura seorang Pengusaha terkenal di Negara Indonesia dan Ibu Indah Permata seorang designer terkenal di daerah kota Bandung.

Setelah mereka bangun Indry langsung ke dapur untuk membuat kopi sang ayah yang berada di depan televisi. Tak lama kemudian Yehsa membawa gelas berisikan susu yang masih hangat sedangkan Zana sudah berada di sebelah ayahnya yaitu di depan televisi, ia bukan ikut ayahnya menonton, tapi hanya menumpang duduk, karena ia dilarang keras kembali ke kamar setelah bangun dari tidur. Lantaran ibunya sudah hapal dengan sifat Zana, jika Zana Kembali ke kamar, maka sudah di pastikan bahwa Zana akan tertidur kembali.

Berawal dari sebuah takdir tuhan yang tak pernah terduga. Yang mengajarkan ku, tentang cara menjadi manusia yang kuat. Aku menjalaninya, memasrahkan semua. Berharap takdir yang datang adalah takdir paling terbaik yang telah
direncanakannya.

“Alhamdulillah, pengunjung pasar ramai sekali hari ini,
ya Bu,” ujar Toni usai melayani satu persatu, tiga pembeli
perdana di lapaknya pagi itu.
“Iya Ton, Alhamdulillah,” seru ibunya pelan.
“Semoga kue kita laris manis!” ujar Toni sambil
menadahkan kedua tangan, lalu mengusap wajahnya.