
Deskripsi Singkat
Veilon ingin memberikan ruang untuk merasakan dan merenungkan makna yang mungkin selama ini terhalang oleh sunyi dan waktu. Semoga buku ini dapat menjadi teman yang tenang untuk semua pembacanya.
“Bumi Lelah” bukan hanya sekadar judul, tetapi sebuah metafora yang menggambarkan kondisi planet kita yang terus menerus didera kerusakan. Pemanasan global, eksploitasi alam, konflik, hingga ketidakadilan sosial menjadi tema yang diurai dengan liris dan penuh makna. Setiap bait dan kata dalam buku ini adalah renungan mendalam atas apa yang telah, sedang dan mungkin akan terjadi jika manusia tidak segera bertindak.
Buku “Ia Lupa, Sudah Pulang” adalah sebuah antologi puisi bersama yang menggabungkan suara-suara unik dari tiga penulis: Gempita A. Pierda, Nina Maryani, dan Ide Bagus Putra. Melalui buku ini, para penulis menghadirkan ragam tema yang mengajak pembaca untuk merenungkan berbagai aspek kehidupan. Gempita A. Pierda, dengan gayanya yang reflektif dan lugas, membawa kita menyelami berbagai perenungan tentang makna perjalanan hidup. Nina Maryani hadir dengan puisi-puisi yang sederhana tetapi sarat makna, menggugah kita untuk menemukan keindahan dalam hal-hal kecil di sekitar kita. Sementara itu, Ide Bagus Putra, dengan nuansa teatrikalnya, menghidupkan kata-kata yang tak hanya bisa dibaca, tetapi juga dirasakan di panggung kehidupan.
Rumah Berbisik Bersama Langit adalah kumpulan karya sajak dan cerpen karya penulis muda di Kota Jambi. Karya ini merupakan khasanah sastra yang ditulis oleh generasi muda di Kota Jambi dewasa ini. Karya – karya ini merefleksikan perjalanan ide, emosi, dan imajinasi yang tertuang dalam untaian kata. Penerbitan buku ini menjadi wadah bagi penulis muda untuk menggali potensi kreatif. Selain itu juga menjadi penyemangat penulis muda dalam berkarya secara berkala.
Ini bukan sekadar buku. Ia adalah sebuah arsip perasaan, sebuah cermin perjalanan seorang penyair yang mencoba memahami dunia dan dirinya sendiri. Beberapa dari sajak ini pernah menggema di atas panggung, membentuk jalinan emosi antara penyair dan penontonnya. Namun, tak sedikit pula yang terselip dalam sunyi, tertidur di sudut-sudut waktu, menunggu saatnya tiba untuk dibangkitkan.

Antologi ini adalah bukti bahwa bakat dan kreativitas tidak mengenal batas usia. Setiap puisi dalam buku ini adalah cerminan dari dunia yang dilihat melalui mata polos namun penuh makna. Para penyair muda ini dengan berani mengeksplorasi tema-tema seperti cinta keluarga, persahabatan, alam, dan mimpi-mimpi yang mereka rajut.


Setiap karya memiliki tuannya. Setiap pembaca mempunyai pandangannya. Pembaca berhak melakukan penilaian, namun penyair juga mempunyai ciri khas tulisannya sendiri.


Ibu, ajari aku menulis rasa
Agar bisa kutuliskan dalam puisi
Rasa ini terhadapmu
Ibu, ajari aku merangkai rasa
Agar tepat kubuat
Betapa durhakanya aku
Terhadapmu, ibu


Aku sengaja datang terlambat Tidak tergesa Agar tercipta jeda sedikit lebih lama Di antara kita Kau bilang apa? Curang?