
Deskripsi Singkat
Minggu pagi yang cerah matahari mulai tampak, burung burung pun mulai berkicau. Farsya Anindia putri sulung dari Bapak Gunawan dan Ibu Fatmawati sedang bersiap-siap menuju ruang makan.

Minggu pagi yang cerah matahari mulai tampak, burung burung pun mulai berkicau. Farsya Anindia putri sulung dari Bapak Gunawan dan Ibu Fatmawati sedang bersiap-siap menuju ruang makan.

“12 JULI 1686,” benda langit berbentuk bundar terlihat melintasi awan di langit Swedia, sebuah benda yang melaju dengan kecepatan yang tidak dapat diperhitungkan dalam hitungan detik menghantam ujung Negara itu. Suaranya mengguncang hingga ke seluruh penjuru Negeri Swedia.

Terdengar bunyi alarm dan akhirnya aku terbangun dari tempat tidur pukul 05:30 wib. Langsung beranjak dari tempat tidur lanjut membereskan tempat tidur, membuka gorden kamar. Setelah itu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu aku langsung memakai seragam sekolah dan melaksanakan shalat subuh.Setelah semuanya selesai aku langsung bersiap-siap dan turun ke bawah untuk sarapan dengan keluarga yang lainnya.

Di sebuah desa kecil di tepi hutan, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Rizky. Rizky adalah seorang anak yang ceria dan penuh dengan kecerdasan. Satu-satunya teman setianya adalah seekor kucing hitam yang diberi nama Kiki. Mereka berdua telah menjalin ikatan yang tak terpisahkan sejak Rizky menemukan Kiki di sebuah gubuk kosong di pinggir hutan.

Masa SMA adalah masa yang penuh dengan kenangan indah bagi Sarah dan teman-temannya. Awalnya, Sarah merasa sangat gugup karena tidak mengenal siapapun di sekolah barunya. Dia adalah gadis yang pemalu dan tidak mudah bergaul dengan orang baru.


Kondisi saat ini semakin sulit. Pandemi COVID-19 belum berakhir sejak masuk ke Indonesia awal tahun lalu. Media hampir setiap hari memberitakannya. Sebenarnya aku merasa takut terhadap situasi saat ini. Bahkan, aku terkadang sengaja tidak mencari tahu tentang perkembangan kasus COVID-19.

Denia, itu lah aku seorang gadis yang berasal dari keluarga seoarang petani. Ibu ku Yanti juga dilahirkan dari seorang petani yang kesehariannya pergi ke sawah dari pagi hingga petang untuk merawat persawahan hasil garapannya. Mereka menanam padi untuk bertahan hidup keseharian mereka. Ibu menikah bisa di katakan masih di bawah umur. Pada waktu itu ibu baru menginjakan kaki di kelas 1 SMA. Putus di tengah jalan pendidikannya faktor kekurangan ekonomi sehingga ibu berhenti dari pendidikannya. Sejak putus sekolah setiap hari ibu pergi ke sawah bersama kedua orng tuanya.

Angin pantai begitu lembut menyerpa, gelombang ombak indah menyapa, dan senja yang begitu indah di pandang seakan-akan tidak akan sirna. Aku duduk di tepi pantai sambil menikmati damai nya kehidupan. Seketika terlintas di pikiran ku mengingat hal yang terjadi sebelumnya, kenangan indah yang ingin ku ulang
namun tidak mungkin kuputar waktu kembali.

Iri rasanya melihat adik terakhirnya membuat rela mereka memperlakukan Elvan bak hewan.Hinaan,cacian,tamparan sudah ia rasakan berkali-kali. Ia dilahirkan adalah suatu permasalahan, Elvan juga berpikir tidak mungkin ia bisa memperbaiki kesalahan itu. Elvan sudah tidak kuat, setelah ia tau bahwa ia mempunyai penyakit yang akan berakibatkan membunuhnya suatu saat nanti. Ia lelah dan ia tidak mau memperdulikan penyakitnya lagi.Tapi sebelum itu Elvan akan mendapatkan haknya sebagai seorang adik.